Siang ini,
ketika sedang mempersiapkan mid term exam media planning ada seorang teman-sahabat
yang mendatangi kamarku. Mantan teman sekamar ku selama 2 tahun, Adlina Nufika.
Ketika dia datang, semua masih biasa saja, berdikusi biasa dengan temanku yang
lain juga. Entah kenapa aku pindah belajar ke tempat tidurku, mungkin karena di
luar sempat agak bising dan aku ingin berkosentrasi dengan 200 slide yang harus
aku hafal untuk ujian besok.
Beberapa
saat kemudian si wanita yang lagi sangat suka makan ini pun memasuki kamar ku
dan dia bertanya sedang apa. Oh, demi apapun aku tau dia basa basi. Aku tau dia
ingin bertanya sesuatu, yang aku sendiri sebenarnya tidak tau apa yang ingin
dibicarakan. Lalu ia tiba tiba bersuara mengatakan “Theo,lo marah sama gue??”
Heran dan ingin tertawa sebenarnya. Aku sedang tidak punya alasan apapun untuk
marah kepada siapapun dan hubungan kami pun baik baik saja selama ini. Lalu ia
mengatakan “Theo elo itu berubah.” Aku hanya terdiam mendengarnya, terpaku juga
mungkin untuk bahasa lebay nya. Sebenarnya aku lelah ditanyai seperti itu. Setidaknya
dalam 1 bulan ini sudah 3 orang yang sudah mengatakannya secara langsung
padaku. Lalu aku hanya menjawab kepada fika, “Gue ga berubah,gue biasa saja.”
Aku berusaha menghindar. Lalu Fika berkata “Gue merhatiin elo selama ini,merhatiin
twitter lo, gue diemin lo selama ini, gue ga ngebahas apapun supaya kasi lo
waktu. Elo berubah. Elo sekarang lebih pendiem, ga seceria dulu, lebih sering
main main sam itouch lo untuk pengalihan. Gue tau lo lagi sedih.” Selama ini
setiap kali ada orang yang bilang aku berubah, aku hanya diam. Menutup hati,
mata dan telinga dan meyakinkan diriku aku tidak berubah, aku hanya lebih
sedikit waspada. Waspada dari orang orang yang mengata ngataiku, yang
memberikan penilaian negatif kepadaku , menghindar dari mereka yang tak pernah
mendengar alasan ku dengan baik dan tidak pernah menempatkan diri mereka di
posisi ku. Ya, selama 1,5 bulan ini aku sudah berubah menjadi theo yang lain
walaupun tidak sepenuhnya. Tanpa kuberitahu alasannya pun Fika pasti sudah tau
apa alasanku menjadi seperti ini. Aku bersembunyi selama ini. Menyedihkan bukan
menjadi diri ku?? :’’) Fika bilang, mataku tidak dapat berbohong ketika aku
sedang menyimpan kesedihan yang mendalam.
Ia sudah mengetahui itu dari 2 tahun yang lalu. Aku sendiri tidak tahu
itu. Haha. Berarti aku sama sekali tidak dapat menyembunyikan perasaan di depan
orang lain. Bodoh!
Lalu Fika
mengingatkan 1 kejadian yang sangat dulu sekali di awal kita menjadi teman
dekat. Dia marah kepadaku karena aku terlalu sibuk. Saat itu ia tidak tahu
alasannya. Seiring semakin dekat dengan ku akhirnya ia pun tahu alasan ku suka
mencari kesibukan, teman yang banyak dan sebagainya. Ya, karena aku anak
tunggal, cukup sering ditinggal sejak kecil dan dididik cukup keras oleh
orangtua ku, dimana aku tidak boleh manja dan lemah menghadapi dunia ini.
Karena aku lebih sering menghabiskan waktu di luar, aku mencari teman sebanyak
banyaknya agar aku tidak kesepian. Aku menyayangi teman teman ku, agar aku
tidak kehilangan mereka. Agar aku tidak kehilangan rasa sayang. Aku takut
kehilangan, aku sangat menakutinya. Aku lelah mengalami kehilangan dalam hidup
ku. Walaupun aku dididik keras, bagaimanapun aku wanita. Aku punya perasaan. Aku
juga bisa menangis.
Dan ia tahu
penyebab kesedihan ku kali ini adalah seseorang. Seseorang yang sangat aku
sayang, tempat ku berbagi apapun, tempat ku tertawa dan menangis, tempat ku
untuk merengek dan sedikit manja, yang mana sama sekali tidak boleh kulakukan
di hadapan orang tuaku dan bahkan aku menganggap dia menjadi orangtua ku di
beberapa waktu. Aku memang susah jika sudah menyayangi orang. Akan sangat susah
menghadapi hal buruk jika terjadi sesuatu antara aku dengan orang yang aku
sayang. Begitu pula yang dikatakan Fika, sangat susah bagiku jika sudah merasa
sakit dan memiliki masalah dengan orang yang aku sayang. Dan karena untuk
masalah kali ini aku masih memiliki rasa bersalah dan ada hal yang belum bisa
aku tuntaskan. Demi apapun, aku hanya butuh satu kesempatan. Setidaknya untuk
mengungkapkan segalanya. Fika bilang juga, aku adalah seorang teman yang
terlalu unyu untuk orang lain. Terlalu baik. Dibalik didikan keras itu aku
tetap memliki kerapuhan.
Aku
menumpahkan seluruh ke stress san, emosi dan tangis ku kepada Fika siang ini. Entah
sudah berapa kali aku menangis dalam 1,5 bulan ini. Aku cukup lelah menyimpan
segala perasaan ini tanpa bisa menceritakannya kepada siapapun.
Ternyata
terlalu banyak analisis Fika tentang diriku, yang aku sendiri tidak
menyadarinya :’’) Aku terlalu menghindar dan menutup mata dan hati dengan apa
yang terjadi kepada diriku. Aku berusaha tidak peduli dan tidak mau tahu dengan
apa yang aku rasakan. Walaupun sudah berbicara cukup panjang hari ini, aku
tidak dapat berjanji aku dapat kembali seriang dan seceria theo yang dulu.
Sangat sulit untuk ku sekarang. Aku butuh waktu yang tidak sebentar pastinya.
Entah kapan aku bisa kembali, aku pun tidak tahu dengan tepat. Walaupun Fika bilang akan ada pelangi sehabis hujan. Mungkin aku bisa menunggu pelangi itu datang :)
Terimakasih
Fika karena lebih mengerti diri ku daripada diri ku sendiri. Terimakasih untuk
obrolannya. Terimakasih untuk tangis dan pelukannya JJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar