Senin, 04 Februari 2013

This girl knows me better than my self. Thank you Adlina Nufikha


Siang ini, ketika sedang mempersiapkan mid term exam media planning ada seorang teman-sahabat yang mendatangi kamarku. Mantan teman sekamar ku selama 2 tahun, Adlina Nufika. Ketika dia datang, semua masih biasa saja, berdikusi biasa dengan temanku yang lain juga. Entah kenapa aku pindah belajar ke tempat tidurku, mungkin karena di luar sempat agak bising dan aku ingin berkosentrasi dengan 200 slide yang harus aku hafal untuk ujian besok.

Beberapa saat kemudian si wanita yang lagi sangat suka makan ini pun memasuki kamar ku dan dia bertanya sedang apa. Oh, demi apapun aku tau dia basa basi. Aku tau dia ingin bertanya sesuatu, yang aku sendiri sebenarnya tidak tau apa yang ingin dibicarakan. Lalu ia tiba tiba bersuara mengatakan “Theo,lo marah sama gue??” Heran dan ingin tertawa sebenarnya. Aku sedang tidak punya alasan apapun untuk marah kepada siapapun dan hubungan kami pun baik baik saja selama ini. Lalu ia mengatakan “Theo elo itu berubah.” Aku hanya terdiam mendengarnya, terpaku juga mungkin untuk bahasa lebay nya. Sebenarnya aku lelah ditanyai seperti itu. Setidaknya dalam 1 bulan ini sudah 3 orang yang sudah mengatakannya secara langsung padaku. Lalu aku hanya menjawab kepada fika, “Gue ga berubah,gue biasa saja.” Aku berusaha menghindar. Lalu Fika berkata “Gue merhatiin elo selama ini,merhatiin twitter lo, gue diemin lo selama ini, gue ga ngebahas apapun supaya kasi lo waktu. Elo berubah. Elo sekarang lebih pendiem, ga seceria dulu, lebih sering main main sam itouch lo untuk pengalihan. Gue tau lo lagi sedih.” Selama ini setiap kali ada orang yang bilang aku berubah, aku hanya diam. Menutup hati, mata dan telinga dan meyakinkan diriku aku tidak berubah, aku hanya lebih sedikit waspada. Waspada dari orang orang yang mengata ngataiku, yang memberikan penilaian negatif kepadaku , menghindar dari mereka yang tak pernah mendengar alasan ku dengan baik dan tidak pernah menempatkan diri mereka di posisi ku. Ya, selama 1,5 bulan ini aku sudah berubah menjadi theo yang lain walaupun tidak sepenuhnya. Tanpa kuberitahu alasannya pun Fika pasti sudah tau apa alasanku menjadi seperti ini. Aku bersembunyi selama ini. Menyedihkan bukan menjadi diri ku?? :’’) Fika bilang, mataku tidak dapat berbohong ketika aku sedang menyimpan kesedihan yang mendalam.  Ia sudah mengetahui itu dari 2 tahun yang lalu. Aku sendiri tidak tahu itu. Haha. Berarti aku sama sekali tidak dapat menyembunyikan perasaan di depan orang lain. Bodoh!
Lalu Fika mengingatkan 1 kejadian yang sangat dulu sekali di awal kita menjadi teman dekat. Dia marah kepadaku karena aku terlalu sibuk. Saat itu ia tidak tahu alasannya. Seiring semakin dekat dengan ku akhirnya ia pun tahu alasan ku suka mencari kesibukan, teman yang banyak dan sebagainya. Ya, karena aku anak tunggal, cukup sering ditinggal sejak kecil dan dididik cukup keras oleh orangtua ku, dimana aku tidak boleh manja dan lemah menghadapi dunia ini. Karena aku lebih sering menghabiskan waktu di luar, aku mencari teman sebanyak banyaknya agar aku tidak kesepian. Aku menyayangi teman teman ku, agar aku tidak kehilangan mereka. Agar aku tidak kehilangan rasa sayang. Aku takut kehilangan, aku sangat menakutinya. Aku lelah mengalami kehilangan dalam hidup ku. Walaupun aku dididik keras, bagaimanapun aku wanita. Aku punya perasaan. Aku juga bisa menangis.

Dan ia tahu penyebab kesedihan ku kali ini adalah seseorang. Seseorang yang sangat aku sayang, tempat ku berbagi apapun, tempat ku tertawa dan menangis, tempat ku untuk merengek dan sedikit manja, yang mana sama sekali tidak boleh kulakukan di hadapan orang tuaku dan bahkan aku menganggap dia menjadi orangtua ku di beberapa waktu. Aku memang susah jika sudah menyayangi orang. Akan sangat susah menghadapi hal buruk jika terjadi sesuatu antara aku dengan orang yang aku sayang. Begitu pula yang dikatakan Fika, sangat susah bagiku jika sudah merasa sakit dan memiliki masalah dengan orang yang aku sayang. Dan karena untuk masalah kali ini aku masih memiliki rasa bersalah dan ada hal yang belum bisa aku tuntaskan. Demi apapun, aku hanya butuh satu kesempatan. Setidaknya untuk mengungkapkan segalanya. Fika bilang juga, aku adalah seorang teman yang terlalu unyu untuk orang lain. Terlalu baik. Dibalik didikan keras itu aku tetap memliki kerapuhan.
Aku menumpahkan seluruh ke stress san, emosi dan tangis ku kepada Fika siang ini. Entah sudah berapa kali aku menangis dalam 1,5 bulan ini. Aku cukup lelah menyimpan segala perasaan ini tanpa bisa menceritakannya kepada siapapun.

Ternyata terlalu banyak analisis Fika tentang diriku, yang aku sendiri tidak menyadarinya :’’) Aku terlalu menghindar dan menutup mata dan hati dengan apa yang terjadi kepada diriku. Aku berusaha tidak peduli dan tidak mau tahu dengan apa yang aku rasakan. Walaupun sudah berbicara cukup panjang hari ini, aku tidak dapat berjanji aku dapat kembali seriang dan seceria theo yang dulu. Sangat sulit untuk ku sekarang. Aku butuh waktu yang tidak sebentar pastinya. Entah kapan aku bisa kembali, aku pun tidak tahu dengan tepat. Walaupun Fika bilang akan ada pelangi sehabis hujan. Mungkin aku bisa menunggu pelangi itu datang :)

Terimakasih Fika karena lebih mengerti diri ku daripada diri ku sendiri. Terimakasih untuk obrolannya. Terimakasih untuk tangis dan pelukannya JJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar