Minggu, 10 Februari 2013

Agar Kau Mengerti


*and i like rhymed verse part 2*


aku tak pernah bisa
tuk kau beri dunia
aku tak pernah bisa
tuk kau beri stumpuk kata cinta

yang aku ingin hanyalah pengertianmu
tuk sedikit saja pahami maksudku
yang aku ingin hanyalah agar kau mau
sekedar...mengerti aku

aku tak pernah minta
untuk semua waktumu
aku tak pernah minta
kau beri smua yang engkau punya

Selasa, 05 Februari 2013

Just a Feeling by Maroon 5


*the point is, almost of this lyric same with my situation now. Just found it in my playlist and i can feeling this song :)*



I watched you cry, bathe in sunlight by the bathroom door
You said you wish you did not love me anymore
You left your flowers in the backseat of my car
The things we said may have left permanent scars


Obsessed, depressed at the same time
I can't even walk in a straight lineI'm a light in the dark,
 No sunshine, no sunshine, no sunshine


She cries, "This is more than goodbye
When I look into your eyes
You're not even there"
It's just a feeling, just a feeling, just a feeling that I have
Just a feeling, just a feeling that I have
'Cause it's just a feeling, just a feeling, just a feeling(I can't believe that it's over)


You've hit your low
You've lost control, you want him back
You may not believe me but I gave you all I had
Undressed, confessed that you're still mine
I rolled around in a bed full of tears and I
 I'm still laying in the dark,
 no sunshine, no sunshine, no sunshine


She cries, "This is more than goodbye
When I look into your eyes
You're not even there"


It's just a feeling, just a feeling, just a feeling that I have
Just a feeling, just a feeling that I have
'Cause it's just a feeling, just a feeling, just a feeling (No, I can't believe that it's over now)


It's just a feeling, just a feeling that I have
So much to say it's not the way she does her hair
It's the way she seems to stare right through my eyes
And in that darkest day that she refused to run away
From love she tried so hard to save


It's just a feeling, just a feeling, just a feeling that I have
Just a feeling, just a feeling that I have
It's just a feeling, It's just a feeling, just a feeling, just a feeling that I have
Just a feeling, just a feeling that I have


It's just a feeling, just a feeling, just a feeling that I have (I can't believe that it's over)
Just a feeling, just a feeling that I have (I can't believe that it's over)
And I can’t believe that it’s over.

Senin, 04 Februari 2013

This girl knows me better than my self. Thank you Adlina Nufikha


Siang ini, ketika sedang mempersiapkan mid term exam media planning ada seorang teman-sahabat yang mendatangi kamarku. Mantan teman sekamar ku selama 2 tahun, Adlina Nufika. Ketika dia datang, semua masih biasa saja, berdikusi biasa dengan temanku yang lain juga. Entah kenapa aku pindah belajar ke tempat tidurku, mungkin karena di luar sempat agak bising dan aku ingin berkosentrasi dengan 200 slide yang harus aku hafal untuk ujian besok.

Beberapa saat kemudian si wanita yang lagi sangat suka makan ini pun memasuki kamar ku dan dia bertanya sedang apa. Oh, demi apapun aku tau dia basa basi. Aku tau dia ingin bertanya sesuatu, yang aku sendiri sebenarnya tidak tau apa yang ingin dibicarakan. Lalu ia tiba tiba bersuara mengatakan “Theo,lo marah sama gue??” Heran dan ingin tertawa sebenarnya. Aku sedang tidak punya alasan apapun untuk marah kepada siapapun dan hubungan kami pun baik baik saja selama ini. Lalu ia mengatakan “Theo elo itu berubah.” Aku hanya terdiam mendengarnya, terpaku juga mungkin untuk bahasa lebay nya. Sebenarnya aku lelah ditanyai seperti itu. Setidaknya dalam 1 bulan ini sudah 3 orang yang sudah mengatakannya secara langsung padaku. Lalu aku hanya menjawab kepada fika, “Gue ga berubah,gue biasa saja.” Aku berusaha menghindar. Lalu Fika berkata “Gue merhatiin elo selama ini,merhatiin twitter lo, gue diemin lo selama ini, gue ga ngebahas apapun supaya kasi lo waktu. Elo berubah. Elo sekarang lebih pendiem, ga seceria dulu, lebih sering main main sam itouch lo untuk pengalihan. Gue tau lo lagi sedih.” Selama ini setiap kali ada orang yang bilang aku berubah, aku hanya diam. Menutup hati, mata dan telinga dan meyakinkan diriku aku tidak berubah, aku hanya lebih sedikit waspada. Waspada dari orang orang yang mengata ngataiku, yang memberikan penilaian negatif kepadaku , menghindar dari mereka yang tak pernah mendengar alasan ku dengan baik dan tidak pernah menempatkan diri mereka di posisi ku. Ya, selama 1,5 bulan ini aku sudah berubah menjadi theo yang lain walaupun tidak sepenuhnya. Tanpa kuberitahu alasannya pun Fika pasti sudah tau apa alasanku menjadi seperti ini. Aku bersembunyi selama ini. Menyedihkan bukan menjadi diri ku?? :’’) Fika bilang, mataku tidak dapat berbohong ketika aku sedang menyimpan kesedihan yang mendalam.  Ia sudah mengetahui itu dari 2 tahun yang lalu. Aku sendiri tidak tahu itu. Haha. Berarti aku sama sekali tidak dapat menyembunyikan perasaan di depan orang lain. Bodoh!
Lalu Fika mengingatkan 1 kejadian yang sangat dulu sekali di awal kita menjadi teman dekat. Dia marah kepadaku karena aku terlalu sibuk. Saat itu ia tidak tahu alasannya. Seiring semakin dekat dengan ku akhirnya ia pun tahu alasan ku suka mencari kesibukan, teman yang banyak dan sebagainya. Ya, karena aku anak tunggal, cukup sering ditinggal sejak kecil dan dididik cukup keras oleh orangtua ku, dimana aku tidak boleh manja dan lemah menghadapi dunia ini. Karena aku lebih sering menghabiskan waktu di luar, aku mencari teman sebanyak banyaknya agar aku tidak kesepian. Aku menyayangi teman teman ku, agar aku tidak kehilangan mereka. Agar aku tidak kehilangan rasa sayang. Aku takut kehilangan, aku sangat menakutinya. Aku lelah mengalami kehilangan dalam hidup ku. Walaupun aku dididik keras, bagaimanapun aku wanita. Aku punya perasaan. Aku juga bisa menangis.

Dan ia tahu penyebab kesedihan ku kali ini adalah seseorang. Seseorang yang sangat aku sayang, tempat ku berbagi apapun, tempat ku tertawa dan menangis, tempat ku untuk merengek dan sedikit manja, yang mana sama sekali tidak boleh kulakukan di hadapan orang tuaku dan bahkan aku menganggap dia menjadi orangtua ku di beberapa waktu. Aku memang susah jika sudah menyayangi orang. Akan sangat susah menghadapi hal buruk jika terjadi sesuatu antara aku dengan orang yang aku sayang. Begitu pula yang dikatakan Fika, sangat susah bagiku jika sudah merasa sakit dan memiliki masalah dengan orang yang aku sayang. Dan karena untuk masalah kali ini aku masih memiliki rasa bersalah dan ada hal yang belum bisa aku tuntaskan. Demi apapun, aku hanya butuh satu kesempatan. Setidaknya untuk mengungkapkan segalanya. Fika bilang juga, aku adalah seorang teman yang terlalu unyu untuk orang lain. Terlalu baik. Dibalik didikan keras itu aku tetap memliki kerapuhan.
Aku menumpahkan seluruh ke stress san, emosi dan tangis ku kepada Fika siang ini. Entah sudah berapa kali aku menangis dalam 1,5 bulan ini. Aku cukup lelah menyimpan segala perasaan ini tanpa bisa menceritakannya kepada siapapun.

Ternyata terlalu banyak analisis Fika tentang diriku, yang aku sendiri tidak menyadarinya :’’) Aku terlalu menghindar dan menutup mata dan hati dengan apa yang terjadi kepada diriku. Aku berusaha tidak peduli dan tidak mau tahu dengan apa yang aku rasakan. Walaupun sudah berbicara cukup panjang hari ini, aku tidak dapat berjanji aku dapat kembali seriang dan seceria theo yang dulu. Sangat sulit untuk ku sekarang. Aku butuh waktu yang tidak sebentar pastinya. Entah kapan aku bisa kembali, aku pun tidak tahu dengan tepat. Walaupun Fika bilang akan ada pelangi sehabis hujan. Mungkin aku bisa menunggu pelangi itu datang :)

Terimakasih Fika karena lebih mengerti diri ku daripada diri ku sendiri. Terimakasih untuk obrolannya. Terimakasih untuk tangis dan pelukannya JJ

Minggu, 27 Januari 2013

Fix you? Fix Me!


When i try my best but i don't succeed
When i get what i want but not what i need
When i feel so tired but i can't sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down my face
When i lose something i can't replace
When i love someone but it goes to waste
Could it be worse?

And high up above or down below
When i am too in love to let it go

But if i never try i will never know
Just what i am worth

Tears stream down my face
When i lose something i cannot replace

Senin, 14 Januari 2013

It must be love


It must be love
These thoughts of mine.
It must be love, though it is not enough.
I can not be next to you, but it is fine.
I can not touch you, but it is alright.
Right now, just like this moment, please stay where you are.
If i close my eyes, and even my ears, you are the love inside my heart.
Step by step i am goinG, you too are coming to me.
Your faint smile is for me, my everything.
It must be love, this feelingg of mine.
It must be love, although i am lacking
Even with my eyes closed, even with my eyes covered,
You are the love inside me.
Like this, i belong for you only
Like this, i can not do anything
I belong for even a trace of you.
Suppose your heart were to stay in place.
Suppose your eyes were to light up
Even if I give my everything, i am lacking.

Kamis, 24 Mei 2012

In Memoriam, Dhandy Octadisa :')


Hari ini adalah 21 Mei 2012, hari pertama aku menjalankan Ujian tengah semester. Semua berjalan baik dan lancar. Kebetulan siang ini ada kelas tambahan untuk konsultasi thesis. Aku pun mendengarkan secara seksama. Entah mengapa aku membuka recent update blackberry messenger ku dan melihat banyak teman SMP ku mengganti status mereka dengan “RIP Dhandy Octadisa” . 3 hari sebelum kepergian Dhandy ada seorang teman yang memberi kabar ke aku kalau Dhandy lagi kritis di Bandung. Tapi aku dan teman aku ini ga percaya karena kita pun ga tahu penyakitnya apa dan menganggap teman teman ygang lain bercanda, karena teman teman SMP ku terkadang agak kelewatan bercandanya.Aku cuma bisa terdiam dan makin banyak saja temen temen yang ganti status serupa. Aku sempet bertanya sama salah satu teman dan berharap itu semua cuma bercanda. Bukan kenyataan! Dhandy adalah anak yang kuat dan ceria ga mungkin secepat ini dia pergi. Aku ga bisa percaya!

Kayak petir di siang bolong. Siapa sangka, teman bermain bersama di semasa SMP dulu dan masih berumur 19 tahun sudah secepat ini pergi :’( Ternyata berita itu benar, mereka gak bercanda. Tuhan benar benar memanggil Dhandy Octadisa kembali ke pangkuan Nya. Kenapa Tuhan, Dhandy ko cepet banget perginya? Dhandy kan masih muda. Aku masih mau ketemu ama Dhandy, aku kangen dia :(

Ternyata Dhandy diketahui di bulan 10 kemarin menderita penyakit leukemia. Tapi dia berusaha kuat dan sempat tetap menjalani kuliah nya di Bandung. Ada juga kabar yang mengatakan, dhandy mulai dirawat secara intens di Penang. Teman teman SMP yang berada di Bandung pun sempat beberapa kali mau ketemuan dengan Dhandy tapi selalu saja ada halangan sehingga pertemuan itu tidak pernah terlakasana karena Dhandy udah pergi jauhh :’)  

Hemm, pertama kali ketemu Dhandy itu ketika aku pindah ke Medan di SMP St.Thomas 4 dan berada di kelas yang sama ama dia di 7A, dia masih anak yang kecil dan imut,haha. Pertama tama aku gak terlalu deket ama dia karena aku ngelihat dia anak yang bandel ama temen dan guru juga. Tapi ketika di kelas 9A, tempat duduk aku cuma berjarak 2 tempat duduk dari Dhandy. Mulai di saat itulah aku lebih mengenal dekat dengan dia. Dia memang anak yang bandel tetapi dia juga yang selalu membuat hal hal kocak sampai ga bisa berhenti ketawa di deretan bangku kami. Dia juga yang selalu mengeluarkan suara suara lucu di kelas. Pokoknya selalu dia yang membawa keceriaan dan membuat hari hari terakhir di masa SMP ku jadi lebih berwarna warni.

Sebernya sekitar 1 minggu sebelum kepergian Dhandy tiba tiba aku jadi buka buka foto semasa sekolah yang cuma sedikit itu. Tiba tiba aku jadi kangen masa masa sekolah. Tapi rasa kangen itu aku pendem sendiri aja. Apakah itu sebenernya pertanda dari Dhandy? Maaf Dhan, Theo ga tau. Theo nyesel ga pernah hubungin Dhandy lagi. Theo nyesel jadi sombong. Tapi terakhir kali lihat Dhandy waktu SMA, Dhandy udah jadi anak yang cool, bukan anak yang imut imut lagi J

Dhandy uda ga ngerasa sakit lagi kan? Kasitau dhan, kalau masih ada yang sakit :’( Aku harep Dhandy uda ga sakit lagi yaa, kan udah ketemu ama Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang baik, tolong bantu Dhandy yaa jangan buat dia kesakitan lagi. Uda cukup dia bertahan dengan penyakitnya selama 8 bulan ini.

Dhandy maafin theo yaa. Maafin theo kalau dulu sering ngajak dhandy ribut, aku nya cerewet, sampai aku pernah mau nangis dan kesel geregetan juga karena perang mulut terus ama dhandy. Ejek ejekan terus sama Dhandy. Maaf juga Theo ga bisa dateng ke prosesi pemakaman Dhandy di Medan. Nanti kalau Theo ada kesemapatan ke Medan, Theo bakal ngejenguk ke rumah Dhandy yang baru. Theo janji! Dhandy mau maafin theo kan? :’) Yang tenang disana yaa dhan dan tetep amatin kami teman teman mu dari atas sana supaya kami bisa baik baik di dunia ini. Suatu saat nanti kita bakal ketemu lagi. We miss you so much Dhandy Octadisa :’’))






Jumat, 11 Mei 2012

Melihat sebagian kecil kehidupan di pinggir kota Jakarta


4 Mei 2012
Alarm ku berbunyi di pagi ini pada pukul 06.00 lalu aku pun langsung bangkit bangun dan berdoa terlebih dahulu untuk berterimakasih dan meminta kelancaran kegiatan pada hari ini. Hari ini, memang sudah aku rencanakan semenjak seminggu yang lalu untuk melakukan tugas observasi yang diberikan oleh KOMJAK. Berencana akan pergi bersama dengan kak Fani, salah satu teman kelompok observasi ku tetapi ternyata kak  Fani berhalangan di hari ini. Yup, dan jadilah hari ini aku pergi sendiri tanpa mengetahui arah yang jelas.
Jam 07.00 aku sudah berada di halte busway Yos Sudarso, daerah Sunter mengenakan kaos tipis, celana pendek dan sandal jepit sambil menunggu busway datang dan segera menuju ke halte Busway Grogol setelah sempat transit di halte busway Cempaka Mas. Pagi ini sesak sekali betapa banyak penumpang dan berdesak desakan. Orang orang pun sepertinya memerhatikan ku dengan aneh karena aku berpakaian sangat ala kadarnya dimana semua orang berpakaian batik dengan rapih. Selama 2 jam berdiri di busway, akhirnya aku sampai juga di halte busway Grogol. Aku langsung bergegas menuju terminal yang berada di dekat halte busway dan mencari tahu angkot yang mengarah ke Muara Angke. Setelah bertanya ke pedagang sekitar terminal aku pun menaiki angkot 01 yg mengarah ke Muara Angke. Setelah 1 jam perjalanan, tiba tiba bau asin menyergap di hidung ku dan tak berapa lama kemudian aku pun sampai di terminal Muara Angke.
Turun dari angkot lalu saya melihat tukang ojek di dekat terminal, bertanya apakah mereka tahu dan kenal pengupas kerang di sekitar Muara Angke. Pak Aman pun menawari ku jasa ojek sepeda nya karena tempat nya dikatakan jauh dan ada tanjakan yang tidak sanggup dilalui oleh motor dan odong odong. Aku pun tidak dapat melakukan tawar menawar ketika diberitahu jasa ojek sepeda nya sebesar Rp 8000 karena jarak tempuh yang jauh dan sudah biasa katanya. Aku pun terpaksa menurut dan naiklah aku ke sepeda yang sudah tua itu tapi masih sangat kuat untuk membonceng ku di belakangnya. Selama perjalanan dengan menaiki sepeda saya melihat pemandangan sekitar. Terlihat jauh di sana bangunan megah berdiri dengan kokoh dan megah tetapi di tempat aku sekarang berjalan sangatlah berantakan, panas, kotor dan tidak tertatata rapih. Ternyata seperti ini ya wajah pinggiran kota Jakarta? Sungguh berbeda 180 derajat dari bangunan megah yang aku liat jauh di sana. Tiba tiba bau asin pun semakin menyengat, tetapi bau asin yang segar bukan bau asin yang amis. Ternyata ratusan ikan sedang dijemur. Entah kenapa, hati ku senang melihat nya. Mungkin karena hal kecil tapi nyata yang tidak pernah terlihat di kota sana.
Setelah sekitar 10 menit menaiki sepeda aku pun sampai di tempat pengupas kerang yang ditunjuk oleh Pak Aman. Pak Aman tidak langsung meninggalkan ku di pinggir jalan tetapi ikut menemaniku berjalan memasuki daerah pengupas kerang. Ketika aku memasuki jalanan kecil aku melihat serpihan serpihan kecil yang berkilauan pelangi karena terkena sinar matahari. Semakin masuk ke dalam akhirnya aku sampai di tempat pengupas kerang. Banyak sampah kerang bertaburan diman mana dan didiamkan begitu saja. Sepertinya mereka memang tidak membuangnya ke tempat sampah dan hanya membiarkannya dan diinjak begitu saja jika dilewati. Ketika mencari orang di sekitar yang ada hanyalah sepi. Ternyata memang belum ada kapal yang datang karena memang sedang sulit mencari kerang dan tidak dapat terlalu banyak.
            Tiba tiba Pak Aman mengajak ku ke tempat pengupas kerang yang lain nya yang tidak jauh dari tempat pengupas kerang yang pertama. Ketika aku sampai memang baru ada kapal yang merapat dan segera memindahkan kerang ke dalam 2 drum yang besar. Bapak bapak nelayan itu pun menyambut ku dengan hangat dan mengijinkanku untuk melihat lihat mereka serta membantu mereka. Lalu kerang kerang itu pun dibawa ke sebuah tungku dan segera api nya dinyalakan untuk memanaskan kerang kerang nya. Tetapi dibagian atas kerang ditutupi dengan kain karung. Pak Aman pun menjelaskan bahwa mereka sedang merebus kerang supaya kerang nya dapat dikupas dengan mudah nantinya.
            Masih pukul 10.15 tiba tiba Pak Aman pun mengajak aku berkali kali untuk beristirahat saja di gubuk nya karena kegiatan mengupas kerang masih sangat lama dimulai. Berkali kali diajak dan berkali kali juga aku menolak dengan halus. Aku memilih untuk duduk duduk saja terlebih dahulu di pinggir dermaga sembari menghirup bau asin laut dan bau amis sampah kerang yang begitu menyengat menghampiri hidungku. Aku pun melihat laut yang begitu hitam kotor seperti tak ada harapan untuk kembali membuat nya jernih. Aku hanya bisa memandangnya dengan melamun serta berpikir.
Tiba tiba aku dikagetkan kembali oleh Pak Aman dan megajakku ke tempat tungku agar aku melihat proses perebusan kerang itu. Ternyata lama kelamaan karung yang menyelimuti kerang kerang itu naik meluap menandakan kerang kerang sudah mulai matang dan ter rebus didalamnya. Tak berapa  lama kemudian pun kerang itu digotong ke tempat pengupasan yang sudah digelar kain karung seadanya dan 2 drum kerang yang telah direbus itu pun ditumpahkan dari drum ke kain karung tersebut. Uap pun mengepul menandakan betapa panasnya kerang kerang itu direbus.
Aku pun diajak duduk oleh seorang wanita muda untuk duduk dan aku pun duduk di dekatnya. Aku pun berkenalan dengan wanita muda itu yang ternyata bernama Kartini dan ternyata Kartini masih berumur 19 tahun, umur yang sama denganku. Hal yang membuat ku lebih terkaget kaget lagi adalah ternyata mbak Kartini sudah menikah dengan salah satu nelayan pengupas kerang tadi yang bernama mas Rahmat. Mbak Kartini memang disuruh cepat menikah oleh orang tuanya dan mbak Kartini pun menurut saja apa yang diminta oleh ibunya untuk segera menikah dengan mas Rahmat karena mereka pun sudah berpacaran lama. Untung nya mereka belum memiliki anak karena mbak Kartini memilih untuk ber-KB terlebih dahulu. Mungkin maksudnya agar ada tabungan untuk anak nya di masa yag akan datang.
Aku pun membantu mengupas kerang walaupun bau amis menusuk hidung ku. Ternyata asik juga mengupasi nya. Kulit kerang nya begitu besar dan tebal tetapi daging kerang nya sangat kecil sekali. Aku pun dipersilahkan untuk mencicipi kerang nya karena sudah matang dan ternyata rasanya enak sekali walaupun belum diberi bumbu apapun. Usut mengusut aku pun bertanya perlahan mengenai penghasilan dari hasil mengambil dan mengupas kerang ini dan mbak Kartini cukup bercerita dengan lancar. 1 ember kerang utuh itu harganya Rp 25.000 Tadi ad 2 drum dan aku menghitung 2 drum itu berisi 6 ember kerang. 1kg kerang yang sudah dikupasi harganya hanya Rp 15.000 Karena kerang nya kecil kecil seperti itu pasti jumlah berat yang didapat pun sangat sedikit. Mbak Kartini menjelaskan,biasanya mereka bisa mendapatkan 4 drum kerang setiap harinya. Tetapi karena beberapa hari terakhir ini perusahaan industry di sekitar Muara angke sedang banyak membuang limbah ke lau jadinya kerang yang hidup dan bisa diambil pun sangat sedikit. Sungguh menyedihkan perbuatan manusia. Hidup orang kecil yang hanya bergantung dari alam pun semakin susah saja.
Pengeluaran kebutuhan rumah tangga mbak Kartini dan suami nya selama 1 hari dapat mencapai Rp 50.000 Mereka sangat pas pasan untuk hidup dengan peghasilan kerang yang seadanya itu. Belum lagi dengan biaya bensin dann perawatan kapal. Tetapi beberapa kali mbak Kartini bekerja di restoran sekitar Muara Angke dan hanya digaji Rp 30.000 setiap 1 shift. Jadi dapat aku simpulkan pendapatan dan pengeluaran mereka sangatlah pas pasan untuk hidup yang serba cukup.
Ketika mbak Kartini bercerita hal lainnya dengan aku, aku pun memutuskan untuk cepat pulang demi keamanan diri ku sendiri karena ternyata Pak Aman tadi bukan orang baik dan memiliki maksud yang tidak baik dan berbohong jika hanya sepeda yang merupakan angkutan umum melewati daerah itu. Aku pun langsung dicarikan odong odong oleh mbak Kartini sebelum Pak Aman akan menemui aku kembali karena Pak Aman berencana akan menjemput aku untuk diantar ke terminal. Odong odong pun  segera menuju terminal dan aku langsung mencari angkutan untuk kembali pulang ke Sunter. Tak lupa saya berpamitan dan mengucapkan banyak berterimakasih kepada mbak Kartini.